Kumpulan Puisi Soni Farid Maulana

SEMACAM SURAT

untuk Sutardji Calzoum Bachri

 

jika itu yang kau maksud: memang

aku punya hubungan baik dengan ikan

di kolam; — juga dengan warna ungu

teratai dalam lukisan Monet.

 

tapi kucing yang mengeong

dalam aortamu: — rindu daging paling mawar

rindu susu paling zaitun,

yang harum lezatnya semerbak sudah

 

dari arah al-kautsar. Tapi, seberapa sungguh

kegelapan bisa dihalau: — jika gerhana

membayang di hati? Seberapa alif mekar

 

di alir darah; — jika setiap tasbih diucap,

yang berdebur di otak hanya ombak syahwat?

dji, tangki airmata selalu bedah di situ

2002

 

CIWULAN

aku mendengar suara ricik air sungai yang ngalir

di antara batu-batu dan batang pohonan

yang rubuh ke ciwulan

 

aku mendengar suara itu mengusik jiwaku

bagai alun tembang cianjuran

yang disuarakan nenekku di gelap malam

1979

 

DAUN

siapa yang tak hanyut

oleh guguran daun: ketika angin

mempermainkannya di udara terbuka

ketika lembar demi lembar cahaya matahari

 

menyentuh miring dengan amat lembutnya

siapa yang tak hanyut oleh guguran daun

ketika maut begitu perkasa

mencabut usia hingga akarnya, ketika matahari

 

menarik tirai senja, ketika keheningan

menyungkup batu-batu di dada. Siapa

yang tak hanyut oleh guguran daun: ketika

 

lobang kuburan ditutup perlahan, ketika

doa-doa dipanjatkan dengan suara tersekat

ketika kutahu pasti kau tak di sampingku

1980

 

SUARA TEROMPET AKHIR TAHUN

di ujung malam sedingin

es dalam kulkas;

apa yang kau harap

dari suara

terompet akhir tahun?

 

fajar yang menyingsing

tanpa bunyi kayu dilahap api,

 

tanpa tubuh yang hangus

seperti sisa bakaran kardus?

 

kita berharap

semisal tak ada kurap

di daging waktu

yang esok hari kita kunyah

dalam pesta kehidupan yang renyah?

 

tapi apa artinya berharap

dan tidak berharap,

bila langit muram terus membayang

seperti pengalaman yang kelam:

 

o, bunyi kayu yang hangus

dan tulang kepala yang meletus

dalam kobaran api di bulan Mei

yang ngeri di ini negeri?

 

di ujung malam sedingin

es dalam kulkas;

 

apa yang kau harap

dari ujung bunyi terompet

akhir tahun?

1998

 

SELEPAS KATA

untuk Kautsar M. Attar

 

perempuan itu terbaring di ruang bersalin

bayang-bayang sang ajal berkelebat dalam

biji matanya; memperkenalkan diriku

pada warna darah dan tanah. Dan kau yang

dilahirkan sore itu, tangismu keras,

air matamu adalah arus sungai yang deras

menyeret kesadaranku ke palung derita

seorang ibu, yang sisa amis darah

persalinannya; masih melekat di tubuhku,

yang kini rapuh dikikis waktu, digali detik

jam yang terus melaju ke dunia tak dikenal,

di luar hiruk-pikuk kehidupan kota besar;

ada yang menjauh dari surau dari kilau

telaga kautsar yang Dia berikan

2003

 

LANSKAP

aku mendengar

nyanyian angin pagi

di tangkai pohonan

aku melihat cahaya sunyi matahari

berkilau lembut dalam bening embun pagi

yang bergayutan di punggung rumputan

aku mendengar salam itu,

salamNya, dilantunkan

kokok ayam jantan

negeri langit

1976

 

TEMBANG

Kau yang hidup dalam ingatanku

adalah tembang yang tak pernah selesai

dilantunkan angin sepanjang waktu

Kau yang memberi arah dalam hidupku

adalah petikan kecapi, alun suling,

lagu yang tak pernah sirna di kalbuku.

1977

 

TENTANG ULAR

di kamar ini, di antara bayang-bayang kelambu

aku cari wangi tubuhmu. Desis ular dari bayang-bayang

masa silam – kembali menggema dalam ingatanku,

lalu firmanNya yang menggetarkan itu.

1994

 

NARASI DI BAWAH HUJAN

hujan, curahkan berkahmu yang hijau

pada lembah hatiku.

puaskan dahaga tumbuhan,

hingga jiwaku terasa segar membajak kehidupan.

di pinggir jendela aku ingat benar tahun lalu

aku masih kanak, bersenda gurau, bernyanyi riang,

memutar-mutar payung hitam di bawah curahmu;

yang berkilauan bagai perak disentuh matahari.

o, hujan. Puaskan dahaga jiwaku

agar hidupku menyeruak bagai tumbuhan

menjemput Cahaya Maha Cahaya

1984-1989

 

ANGGUR DAN DAGING BAKAR

untuk Ian Campbell

 

sampai di pinggir jalan

di bawah rintik hujan, dalam derai angin

sore hari; sekar kenangan ligar lagi

dalam dirinya yang sunyi;

di Rotterdam

dalam hujan salju

yang kali pertama ia lihat

dengan penuh rasa takjub

anggur dan daging bakar

“bisa menghangatkan badan,”

katanya. Tapi ia tak menjamin

bisa meloloskan nyawamu,

dari sergapan maut musim dingin

yang melata bagai ular mencari korban

2003

 

DEMIKIAN CAMUS BERKATA

pemberontakan itu, demikian

Albert Camus berkata, memberi nilai

pada hidup1

yang kau punya

kubelai-belai mesra,

nyatanya hidup juga.

hihihi, mari kita masuki

wilayah malam

dengan seluruh api pemberontakan

yang menyala di dada.

o, airmata yang bergulir di cekung rasa

katakan padaku – masihkah kita bermukim

di negeri mimpi? Siang tadi kabar duka

sampai padaku, Tasik yang rusuh

dihanguskan api. Batu mengucap

batu. Darah melayah di gigir hari,

di gigir waktu apa yang rubuh

sehabis api pemberontakan

kita kobarkan hingga ke langit jauh?

hanya sunyi bertilam sunyi

di luar jendela. Lalu daun gugur

dan risik hujan kembali

bicara

1996

Sepatah kata bersayap Albert Camus dalam buku Mythe de Sisyphe

 

CATATAN DALAM HUJAN

aku serahkan seluruh jiwaku padaMu

karena menolak adaMu berdasarkan pikiran

adalah kesia-siaan belaka.

keimanan adalah kerinduan yang bengal

yang berulang jatuh memanjat langit rohani

hingga malam berlalu dalam tahmid dan takbir

hingga kokok ayam mengerek cahaya fajar

di kalbuku. Hujan yang turun menghapus

jejak kemarau di dahan-dahan pohonan

sungguh indah warnanya. Irama suaranya

yang menggetarkan ini sukma; adalah

salawat bagi segala jiwa yang berlayar

ke muara Cahaya Maha Cahaya

semata Cahaya Maha Cahaya

1991

 

PERAHU

kau buka kancing bajuku

seperti cahaya menguliti kegelapan

di sebuah kamar yang kekal

“ada perahu dalam tubuhmu

bawa aku berlayar menuju tanah asal!”

(detik arloji menafsir sepi, rumah karib

dalam diri. Perjalanan panjang,

desis ular hitam di rumpun malam)

lalu kita bicara dalam bahasa di luar kata

yang menampung gaung angin, dan gema ombak

di tepi pantai yang dulu ditinggalkan, berabad lalu.

“bawa aku ke tanah asal yang dulu kau sebut surga:

sebelum gelap kembali bersarang dalam kalbuku!”

(malam menarik diri sebelum maut menafsir

ruhku: dalam huruf-huruf kaku di batu

nisan. Di batu nisan) “Bawa aku …”

2004

 

HALTE, 1

di halte dusun itu, di bangku peron

yang dingin bertilam angin; aku mendengar

siit incuing ngear dalam kelam.

“seseorang akan pergi jauh. Serupa kerlip bintang

di langit lengang!” begitu kau bilang. Dan waktu

adalah debur ombak lautan yang tiada henti

menggerus batu karang dalam tubuhku.

cahaya remang menyentuh miring rambutmu

hangat tanganmu menggenggam erat tanganku

“apa makna hari ini bagi hari esok yang lain?”

2003

 

HALTE, 2

tubuh adalah halte yang kelak roboh,

seperti rumah kayu

yang dihancurkan rayap

dan cuaca gelap

lalu apa makna persinggahan

bagi yang mengangkut dan menurunkan

penumpang? Kau tahu, sinyal itu

kembali mengirim isyarat ke arah yang lain

seperti kedip lampu morse

dalam kabut Waktu.

lalu setelah itu tajam mandau perpisahan

kembali menyayat sang kalbu

di ruang dalam yang kelam

lezat yang tinggal karat

2003

 

KAU

angsana dan gandasoli

yang kau tanam di pekarangan hatiku

tumbuh sudah dengan daun-daunnya yang lebat

kau bilang,

jika kedua tanaman itu tumbuh subur

itu artinya: cinta kita memuncak,

mendaki puting gairah seindah bulan merah

kini kau di mana? Hanya desir angin

dan guguran dedaunan di pekarangan hatiku

diiring bebunyian serangga,

sebelum tiba

musim penghujan

langit kosong dan sepi

seperti sumur tua yang ditinggalkan

dengan sisa air yang nyaris kering

diteguk garang kemarau

yang menghanguskan

akar rumputan

lalu api sunyi berkobar

dari gerbang langit tak dikenal

menjilat dan membakar angsana

dan gandasoli

yang dulu kau tanam

di pekarangan hatiku, pada sebuah pagi

yang diberkahi cahaya matahari

dan kicau burung dari syair attar,

hafiz dan sana’i. Cintaku,

kau di mana ketika rindu

menyemak di dada

ketika ajal melepas kata

dalam dadaku

2002

 

PASTORAL

di tengah perjalanan antara rumahku dan tanah kubur

Ia menyapaku. “Semoga api dan gigitan tujuh ular

berbisa: tak bersarang di tubuhmu,” kata-Nya. Ruhku

pucat-pasi, kalbuku gusar sungguh: miskin alif-lam-ra,

ya Rabbi!

2006

 

BERITA SATU KOLOM

“apakah dadamu dihuni ashabul kahfi?”

demikian kau bertanya di sebuah malam yang lengang

sehabis hujan. “Tidak. Ia justru dihuni sekompi

binatang buas. Raungnya kau dengar, mengguncang

tebing alif-lam-mim-mu, merindu cahaya al-Tawwab”

2000

 

DALAM HUJAN

ada yang jatuh ke dalam sumur waktu

suaranya sanggup menggetarkan hatiku,

sepanjang nadi jam

berdenyut dalam jantungku

 

lalu keriangan itu apa? Hatiku yang murung

kehilangan kaca kata. Sungguh di situ,

aku tak bisa lagi melihat wajahku serupa

apa?

 

cahaya perlahan susut diserap kabut

dering daun jatuh di lauhul mahfudz

bikin hutan kelabu dalam deras hujan

di tubuhku

2006

 

 

CAHAYA KECIL

di ujung dermaga seseorang menanti

ia jatuh cinta pada cahaya kecil

di bola matamu. Dicatatnya harum rambutmu

dalam tujuh larik puisi yang ringkas

 

jika salju turun seluas kalbumu

kau pasti memburunya tanpa ragu. Sebab api

yang menyala di rongga dadanya:

adalah kehangatan hidup yang kau cari

 

ya, memang sepanjang jarum jam berputar

di dinding jantungmu: ia hanya buih

yang menanti kawih. Tapi, jika waktunya tiba

ia metafora dalam merdu kawihmu.

2005

 

LINGSIR

jejak atas pasir

diusir deras arus air

maut bergulir

matahari pun lingsir

 

dan kau berkata:

apa yang tersisa di rongga dada

selain kata, selain cahaya, atau kelam?

langit redup seperti warna hutan

dalam kabut

 

barangkali dulu

seseorang pernah datang

ke ranjangmu. Datang

dengan berkuntum

bunga teratai

 

dan mungkin setelah itu:

ia berkemah di balik dastermu

berselancar di ombak tubuhmu

dan kau tak kuasa menolaknya?

 

ya, memang: maut menggilir

dan hari bergulir. Lalu detik jam

dalam tubuhmu kian lemah suaranya

aku dengar. Adakah ia serupa tanda

 

bahwa matahari yang lingsir

tak lagi menggelar fajar

sebab ia meledak sudah

di langit yang lain, di luar kata

yang diburu para penyair.

 

aku tahu ada yang ingin

kau katakan, sebelum subuh

sehening batu: ditebing

kalbumu yang curam

2005

 

DI SISIMU

aku tahu, hari itu akan tiba di luar kata dan cuaca

detik ini. Dan kau mendesah saat telapak tanganku

mengusap pundakmu.

rambutmu hitam

bagai ribuan garis tinta cina

dalam sebuah drawing Picasso

di sebuah galeri

 

dekaplah aku meski bukan

untuk yang terakhir kali. Angin terasa dingin

di batin. Pekik camar laut

mengguncang dinding kota. Mata arloji

menaksir detak jantungku,

di sisimu. Cahaya bulan menyentuh

miring tubuhku.

2005

 

KISTA ENDOMETRIOSIS

1

pohon-pohon berasap

tiga ekor burung menggigil

dalam kabut

 

lalu gaung timba

di sumur tua mengoyak

ketenangan air di kedalaman

 

“selamatkan aku sebelum bencana

bermukim dalam rahim pikiranku!”

kau bilang

 

tapi mengapa kau biarkan

kista endometriosis tumbuh di situ

yang akarnya menyubur di gelap

bawah-sadarmu?

 

2

medikamentosa, itukah

yang kau harap: mampu membebaskan diri

dari kelam kabut pikiran:

 

sebelum bunga bangkai

ligar di ranjangmu: pada sebuah malam

yang kau sebut malam pertama?

 

aku diam ditafsir air mata

 

desember runtuh dalam tubuhku

kegelapan menghapus cahaya

gemuruh laut malam

dikhianat garam

2004

 

LORONG

aku bercakap dengan bayang-bayang wayang

serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin

di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam

terdengar juga dari arah samping halaman rumahmu

 

yang kelam oleh kabut dukacita. Lalu kata-kata

menyusun dirinya dalam larik-larik puisi orang sufi

yang dari lembah ke lembah kehidupan tiada lelah

mencari kekasih idaman. Di cermin, rambutku

 

putih sudah. Malam kelam di buritan, dan kau

serupa amis gula, cintaku, terpisah dari sepah tebu

di lidahku. Dan kini segala yang aku teguk tawar

 

sudah. “Mengapa semua ini harus terjadi, selagi

segalanya belum genap melunas rindu?” tanya

tanpa jawab. Menggema di lorong jiwaku

2008

 

TAMASYA

– untuk Rendra

 

di pantai laut merah di tepi kota Jeddah

tak kutemukan jejak musa selain deretan cafe

dan wajah para pelancong yang lelah

yang datang dari negeri jauh, yang menyandarkan

tubuhnya di kursi kayu, melepas pandang matanya

ke luas biru laut bertilam lembut angin panas

dengan ombak yang tenang

 

pemandangan seperti ini pernah aku lihat

dalam sebuah lukisan di sebuah galeri kota paris

ketika musim dingin menggigilkan daging dan tulang

dan kau tak ada di sampingku. Hanya pekik burung

yang aku dengar sore itu, sebagaimana aku dengar

siang ini di tepi pantai laut merah di tepi kota Jeddah

dan kau tak ada di sampingku

 

kini aku terperangah mendapatkan kaligrafi usiaku

memutih di tujuh helai rambutku, yang disingkap

lembut angin laut musim panas. ”Yang Maha Hakim

jangan sampai hamba karam ke dasar palung hitam

bagai fir’aun, yang lalai mengingatMu,” suara itu

aku dengar di tempat ini, bikin ruhku gemetar,

o menggelepar, layak seekor ikan di paruh

burung itu. Di paruh burung itu

2008

 

RENUNGAN JANTE ARKIDAM DI USIA 70 TAHUN

– untukAjip Rosidi

 

malam belum begitu gelap

ketika anjing melolong panjang

di bawah remang cahaya bulan

 

“ternyata hidup butuh agama!”

ujar Jante Arkidam seperti gumam

ketika maut menaksir detik jam

dalam detak jantungnya

 

kini kesepian

menampakkan dirinya

di hadapan Jante

yang dilanda batuk

dan sakit kepala

 

“ke mana nyi ronggeng

yang dulu hadir dalam hidupku,

yang dari meja ke meja perjudian

aku rajai dunia malam,” tanya

Jante.

 

sesekali didengarnya

bunyi tiang listrik dipukul orang

juga lolong anjing tengah malam

sehabis mupukembang

lalu angin dingin kembali meraja

menghajar raga Jante dekat jendela

di sebuah rumah pinggir kota

yang dulu dijadikan tempat sembunyi

dari kejaran lelaki satu kampung

dan kini di mana lebat kebun tebu

setelah dengus zaman

menyulapnya jadi perumahan

yang dibuat asal jadi?

 

“betapa tanganku berlumur darah,

Betapa hidupku salah arah. Mengapa

cahayaMu terlambat aku kenal?”

batin Jante. Detik jam

bergeser lagi

 

sesaat, Jante menarik napas

dalam-dalam. Lalu dihembuskannya

pelan-pelan. Dari hari ke hari

ia buron sudah diburu bayang-bayang hidup

yang kelam, yang ingin dihapusnya

seperti menghapus sebuah tulisan

di papan tulisMu yang kekal

 

“masihkah terbuka celah ke Baitullah?”

tanya Jante saat ia berkaca

melihat wajahnya sendiri dalam cermin

seperti batu retak di dasar sumur tua

yang absen disapa timba

tanpa ikan dan lumutan

 

siit incuing ngear di batin Jante

“beri aku kesempatan meneguk

anggur cintaMu!” tangis Jante

di atas sajadah yang basah

oleh airmata

2007

 

LANSKAP

aku berkaca di alir sungai Seine

ada wajahmu di situ

yang dulu berkata, “sayangku!”

 

pekik burung gagak dan merpati laut

mengguncang dinding hatiku sehijau

lumut waktu. Kau? Entah di mana

2007

 

BINTANG PAGI

tiga jam ke arah utara,

kota tua, kabut mengendap

di bukit dan lembah raja

cahaya lembut bintang pagi

di atas pucuk cemara.

“itu bintangku!” katamu,

yang tiada bosan menarik tubuhku

ke dalam pelukanmu, sehabis bencana

dan kerusuhan melanda kalbuku

dan kau bertanya, kembali bertanya:

adakah esok hari, kebahagiaan hidup

tersaji senikmat hari ini?

jam digital berdenyut lagi

maut bergeser dari tempat duduknya

di ruang tunggu yang lengang,

yang gaib dari pandangan matamu

dan mataku, seperti pisau sepi

yang selalu menikam kalbu kau dan aku

yang tak pernah terlihat wujudnya

serupa apa. “Itu bintangku,

dan aku milikmu. Reguklah sedap

madu dari puting kalbuku,” bisikmu.

Langitmu dan langitku bersatu lagi

di kota tua, tiga jam ke arah utara.

“aku milikmu, paku aku cintaku

di kayu nasibmu, jangan ragu.”

2006

 

TAHARAH

sebelum sampai ke Raudhah, ingin kupotong

kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan

kurban. Hati yang karam ke dasar malam

betapa sulit dijangkau. Tinggal kilau mata pisau

ditanganku yang gemetar menujuMu

2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s